Artikel Populer

Teknologi Pengolahan Ikan Cucut

Penyuluh Perikanan.Mmu."Ikan cucut (Elasmobranchii) termasuk kelompok ikan pelagis besar yang memiliki nilai ekonomis. Hampir semua bagian ikan cucut dapat diolah dan dimanfaatkan terutama siripnya yang bernilai ekonomis tinggi yaitu untuk bahan soup. 

Selain itu daging, tulang, kulit, hati, dan limbah (kepala dan isi perut) semuanya dapat diolah untuk dimanfaatkan. Ikan cucut biasa di olah menjadi berbagai produk olahan dengan berbagai tujuan seperti mendapatkan rasa yang enak, mengawetkan, meningkatkan nilai jual, meningkatkan kegunaan,memanfaatkan limbah ikan, dll. 

Pengolahan yang biasa dilakukan pada ikan meliputi beragam prinsip pengolahan seperti penggaraman, pengeringan, pengasapan, pembekuan, sterilisasi, dan fermentasi. Masyarakat umum mengenal berbagai pengolahan ikan seperti pemedaan, pemindangan, pengalangan, pembuatan ikan asin, pengasapan dan penepungan.

Pada beberapa proses pengolahan ikan, dihasilkan cairan hasil samping pengolahanyang mengandung minyak ikan. Cairan tersebut terdiri dari beberapa fraksi yaitu fraksi air, fraksi minyak, dan fraksi padatan tersuspensi yang sebagian besar terdiri atas protein. 

Pada beberapa industry pengolahan baik industry besar maupun industry rakyat fraksi minyak dari cairan hasil samping tersebut diambil dan dijual. 

Pembeli memanfatkan minyak hasil samping tersebut untuk beberapa keperluan seperti untuk pengolahan petis, pakan ternak dan industry kulit. Jika ikan yang diolah mengandung asam lemak ω-3, minyak hasil samping  pengolahan tersebut biasanya masih mengandung asam lemak ω-3 juga. Minyak

hasil samping pengolahan ikan yang telah banyak diteliti adalah minyak hasil samping penepungan dan pengalengan ikan. Namun, hasil samping pemindangan belum banyak dieksplorasi. 

Tingkat pemanfaatan dan pengembangan perikanan cucut di Indonesia belum dapat diketahui secara pasti, hal ini dikarenakan data dan informasi mengenai cucut masih sangat kurang baik mengenai biologi dan potensi maupun distribusi kelimpahannya. 

Hal ini dikarenakan penangkapan cucut di Indonesia umumnya masih merupakan penangkapan tradisional dan hasilnya masih sebagai hasil tangkapan sampingan (by catch) dari upaya penangkapan tuna sehingga pencatatan data penangkapan belum dilakukan dengan baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel